M O M S M O N E Y I D
HOME, Keluarga

Ini 5 Gejala Terbaru Anda Mungkin Terinfeksi Omicron, Bukan Anosmia dan Batuk

Ini 5 Gejala Terbaru Anda Mungkin Terinfeksi Omicron, Bukan Anosmia dan Batuk
Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie  |  Editor: Barratut Taqiyyah Rafie


MOMSMONEY.ID - Setelah memantapkan dirinya sebagai varian dominan, Omicron telah mendefinisikan ulang daftar gejala Covid-19. Dengan jumlah kasus yang menurun secara perlahan, strain Covid-19 terbaru ini masih sangat mudah menular. 

Saat ini, laporan mengungkapkan lima gejala yang kurang diketahui yang tampaknya sedang 'meningkat' di kalangan masyarakat.

Melansir Express.co.uk, Omicron ditandai sebagai strain yang paling menular dibandingkan dengan pendahulunya. Mengamuk di negara, kasus varian Omicron semakin tinggi. 

Untungnya, mengenali gejala Omicron sedini mungkin dan mengisolasi diri dapat membantu menghentikan penyebaran. Berikut adalah gejala-gejala yang bisa menjadi penanda Anda terinfeksi Omicron.

Baca Juga: Resep Istimewa Sup Kakap Merah Ala Restoran Bintang Lima

Varian Omicron ditandai dengan menyebabkan gejala yang berbeda dari gejala tiga varian sebelumnya.

Orang yang dites positif untuk varian yang berasal dari Afrika selatan telah melaporkan sendiri gejalanya pada aplikasi ZOE COVID Study.

Aplikasi ZOE COVID Study ini digunakan untuk mengamati gejala virus corona untuk membantu melacak penyebarannya.

Berdasarkan laporan tersebut, hanya setengah dari pasien yang mengalami demam, batuk atau kehilangan atau perubahan rasa dan bau.

Gejala lainnya adalah yang menyerang bagian perut. 

Baca Juga: Anak-Anak Anda Suka Bertengkar? Begini Cara Mengatasinya

Sekarang, terlihat adanya kenaikan pasien yang mengeluhkan masalah pencernaan.

Berdasarkan jutaan laporan, aplikasi ZOE COVID Study telah menetapkan gejala sakit pada bagian perut sebagai gejala COVID-19.

5 gejala tersebut mencakup:

  1. Diare (diarrhoea)
  2. Sakit perut (stomach pains)
  3. Merasa sakit atau mual (nausea)
  4. Kehilangan selera makan (loss of appetite)
  5. Melewatkan makan (skipping meal)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Tren Teras 2026 yang Nggak Cuma Estetik, Tapi Bikin Rumah Lebih Berkesan

Tren teras 2026 fokus pada kenyamanan, fungsi, dan nilai rumah agar tetap relevan dan menarik dalam jangka panjang. Berikut ini bisa kamu coba.​

Tren Warna Cat Rumah 2026, Ini 5 Aturan Lama yang Sudah Tidak Cocok Lagi

Aturan warna cat lama mulai ditinggalkan, ini cara baru bikin rumah tampil estetik, modern, dan lebih hidup tanpa ribet.​

Dapur Kecil Terasa Luas Tanpa Renovasi Mahal? Ini 6 Trik Simpel yang Bisa Dicoba

Membongkar kesalahan umum desain dapur kecil yang bikin sempit. Ini cara mengubahnya dengan trik sederhana tanpa renovasi mahal.

Harga Gadget Naik di Era AI, Ini Penyebab dan Cara Mudah Menyiasatinya

Harga gadget makin mahal di era AI, pahami penyebabnya dan temukan cara hemat agar tetap bisa upgrade tanpa boros.​  

Gaji Naik Belum Tentu Aman, Ini Tips Atasi Stres Keuangan yang Bisa Dicoba

Stres keuangan tak selalu karena gaji kecil, pahami kebiasaan finansial yang sering jadi penyebab dan cara mudah mengatasinya.​

Reksa Dana atau Emas Digital? Ini Tips untuk Cuan dan Jaga Stabilitas Keuangan

Pilih reksa dana atau emas digital di tahun 2026? Pahami dahulu perbedaan, risiko, dan simulasi keuntungan agar investasi lebih tepat.​  

Prakiraan Cuaca Jawa Timur Besok Hari Kamis (23/4), Hujan Ringan di Kota Ini!

Hujan ringan mendominasi cuaca Jawa Timur pada Kamis, 23 April 2026, sementara sebagian kota akan berawan

Virus dan Penyakit Kian Banyak, Layanan Kesehatan Ini Dibutuhkan

Layanan kesehatan yang modern dan terintegrasi jadi kebutuhan banyak orang, rumah sakit ini hadirkan layanan ini  

Mau Bisnis Kuliner Makin Cuan, Ini Strategi Digital ala Bakso Lapangan Tembak Senayan

​Bersama OttoDigital, BLTS memanfaatkan sistem POS digital untuk memantau penjualan dan stok secara real-time.  

Minat Investor Ritel Indonesia terhadap Instrumen Pasif Meningkat

Tren investor ritel menarih dana investasi di instrumen pasif meningkat. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi IHSG beberapa bulan terakhir. ​