MOMSMONEY.ID - Indonesia perlu mengubah orientasi pembangunan industri, dari sekadar mengejar volume produksi menuju industri bernilai tambah dan berproduktivitas tinggi untuk menghadapi perubahan lanskap geoekonomi global.
Pandangan tersebut disampaikan Dinna Prapto Raharja, Co-Founder & Executive Director Synergy Policies, dalam acara KONTAN Economic and Demographic Forum 2026, Selasa (29/9).
Dinna memaparkan empat poin penting untuk resiliensi Indonesia di kancah global.
Pertama, dalam menghadapi kondisi tersebut, Indonesia perlu konsisten pada paradigma industrialisasi jangka panjang yang berorientasi pada high-value dan high-productivity.
"Artinya, pembangunan industri tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga menciptakan produk dengan nilai tambah dan produktivitas yang lebih tinggi," katanya.
Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara yang memproduksi barang murah atau mengekspor bahan mentah. Perlu juga adanya pengembangan teknologi dan peningkatan keterampilan pekerja, yang menjadi bagian penting dari industrialisasi.
Baca Juga: Indonesia Hadapi 4 Disrupsi Global yang Berlangsung Bersamaan, Dampaknya?
Penguatan industri dan produktivitas tersebut pada akhirnya dapat membuka ruang bagi Indonesia untuk masuk ke dalam berbagai jaringan perdagangan dunia.
Indonesia perlu aktif mencari peluang dari perubahan hubungan antarnegara sehingga tidak terlalu bergantung pada satu jaringan ekonomi tertentu. Perubahan dinamika global tidak selalu hanya menghasilkan keterbatasan, tapi juga dapat menciptakan peluang baru bagi negara untuk memperluas jejaring kerja sama.
Kedua, penguatan ekonomi juga perlu dibarengi dengan pembangunan sumber daya manusia. Pendidikan dan kesehatan menjadi kebutuhan dasar yang mendukung terciptanya masyarakat dengan kemampuan dan kualitas yang lebih baik.
"Jangan sampai perhatian terhadap peningkatan sektor ekonomi justru mengesampingkan kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia," ujar Dinna.
Penguatan industrialisasi tersebut juga membutuhkan pembangunan sumber daya manusia. Pendidikan dan kesehatan menjadi fondasi agar pekerja memiliki kemampuan untuk mendukung peningkatan nilai tambah dan produktivitas industri.
Karena itu, pembangunan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi dan industri, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat tidak terabaikan.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 5,3% di 2026, tapi Perlu Jaga Kepercayaan Investor
Ketiga, kelas menengah yang menjadi aset penting bagi negara.
"Kaum terdidik itu adalah aset. Jadi sistem yang sudah terbukti melahirkan kelas menengah terdidik dan berkualitas, jangan malah ditekan. Jangan malah diberi beban seperti pajak progresif yang terlalu menekan mereka," ungkap Dinna.
Kelas menengah tidak hanya menjadi pelengkap, tapi menjadi salah satu aktor penggerak roda ekonomi negara. Di saat masyarakat miskin mengurangi konsumsi, kelas menengah lah yang menjaga roda ekonomi terus berjalan.
Terakhir atau keempat, perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk para diplomat, didorong untuk tidak hanya mengejar volume kerja sama dan prestasi, tetapi memastikan kemitraan yang dibangun memberikan dampak transformatif bagi Indonesia.
"Kita harus mengejar transfer teknologi. Industri yang masuk harus lebih bersih. Energi yang digunakan harus lebih sedikit. Ekonomi sekuler harus dibangun," ungkap Dinna.
"Peningkatan kapasitas manusia Indonesia harus jadi bagian dari agenda diplomasi kita. Dan itu harus dilakukan secara proaktif agar langkah kita juga dipercaya di luar negeri," imbuhnya.
Fondasi tersebut diharapkan dapat membuat Indonesia tidak hanya bertahan di tengah perubahan ekonomi global, tetapi juga memiliki ruang untuk beradaptasi dan memanfaatkan perubahan tersebut sebagai peluang untuk memperkuat posisinya dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News