MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global berfluktuasi di dua arah. Para pedagang menilai dampak penurunan harga minyak, sambil menunggu data ekonomi untuk memastikan arah suku bunga Federal Reserve AS.
Mengutip Bloomberg, Senin (12/10) pukul 16.05 WIB, harga emas spot turun 0,40% menjadi US$ 4.177,21 per troi ons, menghapus kenaikan pada sesi pagi.
Harga minyak mentah Brent tergelincir menjadi sekitar US$ 104 per barel, karena pasar mempertimbangkan arus minyak Timur Tengah yang tetap stabil di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Logam mulia mendapat dukungan di awal perdagangan Senin, setelah imbal hasil obligasi AS atau US Treasury turun pada Jumat lalu. Permintaan investasi juga memberikan dorongan dalam beberapa hari terakhir, dengan dana berbasis emas yang diperdagangkan di bursa (ETF) menambah kepemilikan minggu lalu, dan Bank Rakyat China mempercepat pembelian.
Meskipun demikian, harga emas telah turun 20% sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari. Gangguan pasokan energi dari Timur Tengah menyebabkan risiko inflasi tetap tinggi dan mendorong beberapa bank sentral memperketat kebijakan moneter. Itu menjadi hambatan bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga: Harga Emas Antam Melonjak Rp 22.000 Hari Ini (12/10), Cek Daftar Harga Terbarunya
Manav Modi, analis komoditas di Motilal Oswal Financial Services Ltd., mengatakan emas terjebak di antara investasi struktural yang kuat dan permintaan bank sentral di satu sisi, dan imbal hasil obligasi yang tinggi serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di sisi lain.
"Kondisi markroekonomi tetap menantang karena tekanan inflasi yang terus menerus membuat The Fed membuka kemungkinan pengetatan kebijakan moneter tambahan, mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan mempertahankan tekanan pada suku bunga riil," kata Modi mengutip Bloomberg, hari ini (12/10).
Para pedagang menunggu beberapa rilis data ekonomi, termasuk data inflasi AS pada minggu ini.
Sementara, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Rusia dan Ukraina telah menyetujui sebuah kesepakatan gencatan senjata energi. Hal ini akan membantu meredakan kekhawatiran mengenai pasokan dan biaya bahan bakar, serta kemungkinan bank sentral untuk menunda pengetatan lebih lanjut.
Namun, para pedagang berhati-hati karena Trump sebelumnya pernah mengumumkan gencatan senjata serupa, namun Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa belum ada kesepakatan yang diselesaikan dan perang terus berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News