MOMSMONEY.ID - Pengembangan industri kreatif terus digalakkan. Segala media untuk memunculkan wajah industri tersebut terus dilakukan.
Salah satunya oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) bersama Negeri Elok menyelenggarakan Literaia 2026 di Museum Nasional, Jakarta. Festival ini menjadi ruang kolaborasi bagi penulis, penerbit, komunitas literasi, dan pelaku industri kreatif untuk mendorong lahirnya lebih banyak kekayaan intelektual (intellectual property/IP).
Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya bersama membangun ekosistem literasi yang mampu menghubungkan karya sastra dengan peluang pengembangan ke berbagai medium kreatif.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan karya sastra memiliki peran strategis dalam membangun ekonomi kreatif berbasis penceritaan (storynomics). Menurutnya, buku tidak berhenti sebagai media baca, tetapi dapat berkembang menjadi film, animasi, gim, pertunjukan, maupun berbagai produk kreatif lainnya yang memberikan nilai tambah ekonomi.
"Sastra adalah fondasi dari ekonomi kreatif berbasis penceritaan atau storynomics. Karena itu, hilirisasi dan komersialisasi kekayaan intelektual menjadi penting agar karya para penulis Indonesia terus berkembang, menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para kreatornya," ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky dalam keterangan dikutip, Selasa (13/10).
Baca Juga: Siswa SMA dan SMK Belajar Bisnis, AI hingga Literasi Finansial
Mengusung tema "Literasi Sumatera", Literaia 2026 menghadirkan diskusi, lokakarya, dan instalasi seni literasi yang mengangkat potensi pengembangan karya tulis ke berbagai medium kreatif.
Bersama Negeri Elok, festival ini dirancang tidak hanya sebagai ajang literasi, tetapi juga sebagai ruang bertemunya penulis, penerbit, komunitas, dan pelaku industri kreatif untuk membuka peluang kolaborasi, pengembangan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pasar bagi karya-karya sastra Indonesia.
Sebagai bentuk dukungan terhadap ekosistem penerbitan, Kementerian Ekraf bersama Kementerian Keuangan serta kementerian dan lembaga terkait tengah mendorong perubahan kebijakan perpajakan royalti buku menjadi PPh Final sebesar 1,5 persen. Kebijakan yang saat ini memasuki tahap harmonisasi tersebut diharapkan memberikan kepastian perpajakan, meningkatkan kesejahteraan penulis, serta memperkuat keberlanjutan industri penerbitan nasional.
Melalui kolaborasi dengan Negeri Elok, festival ini juga menghadirkan instalasi seni karya Dedy Sufriadi berbahan buku-buku sastra Sumatera, program Membaca Bersama Anak-Anak Indonesia, serta berbagai sesi diskusi dan lokakarya yang memperkuat ekosistem literasi nasional.
Negeri Elok turut menggandeng komunitas kreatif untuk menyumbangkan dan merekomendasikan karya literasi sebagai koleksi Perpustakaan Museum Nasional, sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap karya sastra Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News