MOMSMONEY.ID - PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli menghadirkan social experiment yang memperkenalkan JEDA, yakni kepanjangan dari Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang.
Eksperimen sosial yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perdagangan RI, Bank Indonesia, serta Indonesian E- commerce Association sebagai akselerator, menjadi pendekatan sederhana untuk merespons dengan lebih bijak di ruang offline dan online.
Inisiatif ini bertujuan mendorong kebiasaan pause culture atau berhenti sejenak sebelum bertindak, baik di ruang daring maupun luring. Eksperimen yang dilakukan melalui microsite jeda10detik.com ini menjadi ruang micro-pause, dan membuat masyarakat mengambil JEDA 10 detik sebelum merespons berbagai informasi, agar lebih bijak dan tidak mudah terpantik.
Nazrya Octora, Head of PR Blibli, menerangkan, Blibli menghadirkan inisiatif ini lantaran pihaknya ingin menghadirkan pengalaman yang dapat dipercaya di setiap titik interaksi. Menurutnya, di tengah banyaknya informasi yang diterima kali ini, terkadang membuat masyarakat menjadi impulsif dalam mengambil keputusan. Dengan JEDA 10 Detik ini diyakini bisa membantu menenangkan pikiran sebelum bereaksi.
"Founder kami secara jelas mengatakan, kami harus melakukan bisnis agar ujungnya bisa dipercaya. Ketika bisa dipercaya, bukan saja kami memastikan pihak-pihak yang bersinggungan dengan kami aman, tetapi kami juga mengambil bagian dengan mengingatkan melalui langkah-langkah sederhana seperti dengan JEDA 10 detik," ujar Nazrya, Selasa (28/4).
Baca Juga: Dividen Final ASII Rp 292 per saham, Potensi Yield Sekitar 4,8%
Beberapa cara sederhana yang bisa membantu menciptakan jeda sejak untuk menenagkan pikiran, misalnya dengan menarik napas beberapa kali, melakukan relaksasi singkat dengan menutup mata selama beberapa detik atau sekedar meregangkan tubuh.
Nah, eksperimen sosial yang dilakukan Blibli lewat melalui microsite jeda10detik.com ini berlangsung 19 Februari hingga 31 Maret 2026, melibatkan lebih dari 158.000 warga Indonesia.
Dari sosial eksperimen tersebut, ada 10 termuan terkait perilaku masyarakat dalam merespon dorongan impulsif. 10 temuan tersebut antara lain.
1. Konten clickbait masih menang
Meski Blibli sudah mengeluarkan konten-konten clickbait yang keliatan mustahil, ternyata rasa penasaran bikin warga tetap nge-klik, lalu masuk ke jeda10detik.com.
2. Gen Baby Boomers si paling responsif
Mereka yang berusia 65 tahun ke atas paling cepat dalam mengeklik banner clickbait (7,06%) lebih tinggi dibanding Gen Z dengan usia 18-24 tahun (3,43%).
3. Siapa pun bisa kegocek
Bukan hanya perempuan yang terkena jebakan buat impulsif (52%), tapi bisa terjadi pada laki-laki(48%).
4. Yang paling banyak mengeklik ada di kota-kota besar
Si paling reaktif adalah Jakarta (7,81%), tetapi ada juga Depok (2,22%) dan Surakarta (2,05%).
5. Tetap terjebak di jam sibuk
Scroll gak hanya terjadi saat santai, tapi pas jam ribet justru paling rentan: 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB.
6. Lengah gak kenal tanggal merah
Ternyata lonjakan traffic terjadi saat: awal Ramadan (17-21 Februari), long weekend (5-8 Maret) dan libur Lebaran (26-28 Maret)
7. Yang simpel, yang paling disukai
Gamification di jeda10detik.com yang simpel sering dimainkan berulang kali dan efektif untuk JEDA. Secara psikologis, pendekatan ini membantu mengalihkan dorongan impulsif menjadi aktivitas sederhana yang tetap terasa memuaskan.
8. Jadi lebih tenang pas mencoba aktivitas mindful
Tiga micro-pause di jeda10detik.com dengan replay rate terendah datang dari kategori mindful.
9. Ambil JEDA 10 detik, biar tak gampang terpantik
Mayoritas warga memulai JEDA dengan mood biasa aja, bahkan bosan atau kesal. Namun, setelah JEDA 10 detik, tercatat 7 dari 10 warga mengaku lebih tenang dan santai.
10. Keputusan sadar butuh JEDA sebentar
Berhenti sejenak hanya butuh waktu 10 detik.
Menanggapi temuan terkait respons impulsif dalam aktivitas digital, Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, menyoroti relevansi temuan ini dalam konteks literasi digital.
Baca Juga: Promo Indomaret Ice Cream Fair sampai 4 Mei 2026, Frostbite Crunchy Beli 2 Diskon 50%
"Temuan dari hasil social experiment ini memperlihatkan bahwa tantangan utama bukan hanya akses terhadap informasi, tetapi bagaimana masyarakat meresponsnya. Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital. Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian,” katanya.
Immanuel Sibero tarigan, Direktur Pemberdayaan Konsumen, Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan juga mengatakan hal senada. Dia menegaskan, penguatan perlindungan konsumen tidak dapat dilepaskan dari perubahan perilaku konsumen itu sendiri.
Momentum Hari Konsumen Nasional 2026 dengan tema “Konsumen Berdaya, Bijak Bertransaksi” menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Konsep BIJAK yang diusung yaitu Baca ketentuan, Ingat hak dan kewajiban, Jauhi produk ilegal, Adukan apabila terjadi masalah, dan Kritis sebelum membeli, sejalan erat dengan inisiatif JEDA yang diperkenalkan. Dalam hal ini, prinsip “Kritis sebelum membeli” menjadi titik temu utama antara BIJAK dan JEDA.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News